Яндекс.Метрика

Berita dari Kedutaan Besar

Kembali

Sumbangsih Muslim Uni Soviet dalam Kemenangan di Perang Patriotik Raya 1941-1945

Sumbangsih Muslim Uni Soviet dalam Kemenangan di
Perang Patriotik Raya 1941-1945

(Artikel Ibu Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia Lyudmila Vorobieva)

 

Kami amat menghargai kenangan saudara-saudara yang berperang melawan Jerman fasis semasa Perang Patriotik Raya 1941—1945. Seluruh bangsa bekas Uni Soviet memberikan sumbangsih dalam memenangkan peperangan yang lama, kejam, dan berdarah tersebut, tak terkecuali komunitas muslim yang turut berjuang demi mengusir para penjajah dari tanah airnya.

Pada 1942 lembaga muslim bagian Eropa Uni Soviet dan Siberia mengumumkan jihad terhadap fasisme Jerman. “Cinta kepada Tanah Air adalah bagian dari agamamu!” begitulah yang dikatakan dalam pertemuan lembaga tersebut. Dalam amanat kepada muslim Soviet dikatakan bahwa “Dalam Perang Patriotik Raya yang suci melawan Jerman fasis dan sekutunya membuktikan kesungguhanmu, memperlihatkan di depan mata seluruh dunia kesetiaan kepada Tanah Airmu, panjatkan doa di masjid dan musala agar kita meraih kemenangan.” Para ulama menggaungkan kata-kata ini di organisasi-organisasi muslim di seluruh negeri. Bersama umat beragama lainnya, orang-orang muslim pergi ke garis depan sebagai sukarelawan atau bekerja di garis belakang.

Selama perang, masjid-masjid mengumpulkan dana, pakaian, makanan untuk keperluan garis depan, dan dukungan untuk keluarga mereka yang berperang. Pada tahun 1943, komunitas muslim di Uni Soviet mengumpulkan lebih dari
2,5 miliar rubel untuk keperluan militer, termasuk produksi masal tank dan pesawat. Kota Kazan, Ufa, Tashkent, Almaty, dan yang lain menerima warga sipil pengungsi dari kawasan-kawasan perang.

Lebih dari 5,6 juta orang muslim turut berperang di garis depan. Di antara mereka ada orang Tatar, Bashkir, Dagestan, Tatar Krimea, Azerbaijan, Kazakh, Kirgizia, Tajik, Uzbek, dan suka bangsa lain. Selama perang, tanda kehormatan yang tinggi, gelar Pahlawan Uni Soviet, diberikan kepada lebih dari 500 perwakilan umat Islam.

Sumbangsih kepahlawanan muslim Uni Soviet yang terkemuka, seperti Musa Jalil, seorang gerilyawan terkenal; Khanpasha Nuradilov, seorang penembak senapan mesin paling efektif dalam satuan Tentara Merah; Yusup Akayev, salah satu pilot aviasi Armada Laut Hitam; Aliya Moldagulova, seorang penembak jitu berusia 18 tahun, Domullo Azizov, pahlawan operasi penyeberangan Sungai Dnieper pada 1943 (biografi mereka dapat dipelajari di situs Russia Beyond Indonesia dalam artikel “Lima Pahlawan Muslim Soviet Semasa Perang Dunia II”) akan selalu ada dikenang sepanjang masa.

Perang Dunia II menjadi tragedi paling mengerikan pada abad ke-20 yang menewaskan 27 juta warga Uni Soviet. Sebanyak 1.710 kota dan desa serta lebih dari 30 ribu pabrik, 80 ribu sekolah di wilayah Soviet hancur lebur. Bagaimanapun, berkat heroisme dan keberanian warga Soviet, umat manusia selamat dari ancaman fasisme yang mengerikan, yang tidak akan dilupakan sampai kapan pun.

Dewasa ini di Rusia ada proyek untuk mengabadikan mereka yang gugur di medan perang. Inilah upaya untuk melindungi kebenaran terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu sekaligus untuk mencegah upaya mengubah sejarah. Sebagai bukti rasa terima kasih yang mendalam kepada umat Islam atas sumbangsih dalam kemenangan di perang mengerikan itu, pada 6 September 1997, Masjid Memorial dibuka di Moskow untuk mengenang prajurit-prajurit muslim yang gugur selama Perang Patriotik Raya 1941—1945.

Artikel diterbitkan pada tanggal 28 September, 2021 di Koran Sindo.