Яндекс.Метрика

Berita dari Kedutaan Besar

Kembali

Tiga Vaksin Covid-19 dengan Efektifitas terbaik, Sputnik V, Pfizer, dan Moderna

Pemerintah Rusia mengungkapkan, vaksin Covid-19 Sputnik V buatan mereka memiliki tingkat efektivitas lebih dari 95 persen dalam melawan virus corona. Hasil ini memberikan tingkat keberhasilan yang sejajar dengan vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer dan Moderna.

"Sputnik V menunjukkan efektivitas yang sangat tinggi, lebih tinggi dari 95 persen, ini adalah berita yang sangat positif tidak hanya untuk Rusia, tetapi untuk seluruh dunia dan untuk semua negara," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva.

“Melalui uji coba tahap 3 pada manusia, vaksin Sputnik V memiliki tingkat kemanjuran yang tinggi setelah 28 hari setelah dosis pertama diberikan. Sekitar 42 hari kemudian, setelah peneliti melakukan penyuntikan dosis kedua, data menunjukkan efektivitas meningkat hingga 95 persen. Dari hasil ini, saya bisa mengatakan jika vaksi Sputnik V merupakan salah satu yang terbaik bersama Pfizer dan Moderna,” tambah Dubes Vorobieva.

Sputnik V adalah sebuah vaksin anti Covid-19 yang dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia yang berbasis di Moscow. Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim bahwa vaksin yang ditemukan negaranya sangat efektif dan aman dalam penggunaannya.

Sputnik V juga merupakan vaksin terdaftar pertama di dunia berdasarkan platform berbasis vektor adenoviral manusia yang telah dipelajari dengan baik. Saat ini Sputnik V berada di antara 10 kandidat vaksin teratas yang sudah mendekati akhir uji klinis dan siap untuk produksi massal serta didaftarkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Gamaleya Research Institute telah mengembangkan salah satu vaksin paling efisien melawan virus corona di dunia dengan tingkat kemanjuran lebih dari 90 persen. Data yang menunjukan keampuhan tinggi dari vaksin ini telah memberikan kita harapan bahwa kita akan segera mendapatkan senjata paling penting dalam pertempuran melawan pandemi infeksi virus corona baru,” kata Dubes Vorobieva.